Bunga Anggrek Merupakan Flora Asiatis, intip jenis lainnya!
unsplash.com

Bunga Anggrek Merupakan Flora Asiatis, intip jenis lainnya!

Flora merupakan bahasa latin dari alam tumbuhan. Biasanya, jika mendengar kata flora pasti rasanya tidak terpisahkan dari kata fauna atau alam hewan. Dua unsur ini merupakan unsur utama dalam ekosistem. Dari beragam jenis flora dan fauna yang tersebar di seluruh dunia, salah satu yang terkenal adalah flora dan fauna Asiatis, Australis, dan Peralihan. 

Dalam geografi tumbuhan dan hewan, Alfred Russel Wallace (1823-1913) merupakan pelopor yang menemukan garis khayalan wallace and webber yang memisahkan bagian Australis, Asiatis, dan peralihan. Sebagai contoh, bunga anggrek merupakan flora asiatis (yang berada di bagian hutan tropis).

Daftar Isi

I. Penjelasan Garis Wallace Webber

Penjelasan Garis Wallace Webber

Dilansir dari javaisbeautiful.com, Garis Wallace adalah garis hipotetis yang memisahkan hewan geografis Asia dan Australis. Bagian barat condong dengan spesies Asia, sedangkan di timur condong dengan spesies Australia. Garis ini melewati kepulauan Melayu, antara Kalimantan dan Sulawesi, dan antara Bali dan Lombok dan Timor.Garis ini kemudian direvisi dan dipindahkan ke arah timur (daratan Sulawesi) oleh Webber.Flora dan fauna di Asia kemudian ditentukan secara berbeda, sesuai dengan jenis flora dan fauna. Baris ini kemudian disebut sebagai ‘Wallace-Webber’.

Wilayah garis Wallace:

-Sunda Shelf (di sebelah barat) Paparan Sunda adalah lempengan yang membentang dari wilayah Timur (Benua Asia) dan terletak di sebelah barat garis Wallace. Garis Wallace merupakan garis imajiner yang memisahkan flora dan fauna di Sunda Mandiri dengan bagian timur Indonesia yang lebih jauh. Jalur ini membentang dari utara ke selatan, antara Kalimantan dan Sulawesi, dan antara Bali dan Lombok.Garis ini sesuai dengan nama ahli biologi Alfred Russel Wallace yang pada tahun 1858 menunjukkan persebaran flora dan fauna di Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Bali seperti di benua Asia. 

-Sahul Shelf (Di timur) Landas Sahul adalah wilayah lempengan lempengan dari Australesia (Benua Australia) yang terletak di sebelah timur garis Webber. Garis Weber merupakan garis imajiner yang memisahkan flora dan fauna di Dangkalan Sahul dan bagian barat Indonesia. Garis ini membujur dari utara ke selatan antara Kepulauan Maluku dan Papua serta antara Nusa Tenggara Timur dan Australia. Garis ini mengikuti nama ahli biologi Max Weber, yang pada tahun 1902 menunjukkan bahwa flora dan fauna yang tersebar di wilayah ini mirip dengan yang ada di Australia. 

-Wallacea Region / Deep Sea (Di tengah) Lempengan di pinggiran Asia Timur ini berkisar di tengah Garis Wallace dan Garis Webber. Wilayah ini terdiri dari Pulau Sulawesi, Sunda Kecil (Nusa Tenggara) dan Maluku. Flora dan fauna di wilayah ini adalah spesies endemik dan tidak ditemukan di tempat lain di dunia ini. Padahal kawasan ini memiliki unsur oriental dan australesia. Wallace menyatakan bahwa lautan tertutup es pada Zaman Es sehingga flora dan fauna di Asia dan Australia dapat bertemu dan berkumpul di Indonesia. Dan jika hewan Asia lebih banyak di bagian barat, dan Australia juga di bagian timur, karena jika wilayah Wallacea sebenarnya merupakan laut yang sangat dalam sehingga fauna tidak dapat menyeberang dan fauna berhenti menyebar. 

Wilayah Garis Webber:

Garis Webber adalah garis imajiner yang memisahkan flora dan fauna di Dermaga Sahul dan bagian barat Indonesia. Garis ini secara longitudinal terletak di sebelah selatan antara Kepulauan Maluku dan Pulau Papua serta antara Nusa Tenggara Timur dan Australia. Garis ini dipelopori oleh Max Carl Wilhelm Webber yang merupakan ahli zoologi dan ahli biologi Jerman-Belanda. Webber secara khusus tertarik pada kedalaman Selat Lombok, seperti Bali dan Pulau Lombok. Sebelumnya Webber berteori bahwa selat tersebut merupakan tanda pemisah fauna Asia dan Australia. Namun temuan Webber menunjukkan bahwa kedalaman Selat Lombok hanya 312 m, yang artinya tidak terlalu dalam. Setelah dilakukan analisis secara mendalam, khususnya mengenai keberadaan fauna di wilayah timur Indonesia khususnya Sulawesi dan Maluku, Webber berteori bahwa garis kuat pemisah Asia dan Australia tidak ada, namun di bagian timur Indonesia lainnya fauna dengan ciri khas Asia semakin berkurang. Fauna yang berseberangan dengan khas Australia lebih banyak jumlahnya. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Webber ini digunakan oleh beberapa peneliti untuk menggerakkan garis Walalce ke arah timur dan kemudian garis ini disebut Garis Webber, walaupun Webber tidak setuju dengan pemisahan imajiner ini sebagai garis Imajiner Wallace. Garis imajiner Webber dipopulerkan oleh paul Pelseneer pada tahun 1904. Dalam pandangan modern, garis Wallace dan Webber secara umum merupakan zona transisi yang disebut dengan Wallacea. Ilmuwan menggambarkan bahwa garis Wallace antara Kalimantan dan Sulawesi adalah ujung dari lempengan Asia, sedangkan garis Webber berada di antara Sulawesi dan Kepulauan Maluku yang mencerminkan keseimbangan antara fauna Asia dan Australia. 

Leave a Reply